Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak: Mengulas Film

Sudah pernahkah kalian membaca suatu sajak puisi? Ya, ibarat 4 bait sajak yang mana kemudian digambarkan ke dalam sebuah film, begitu pulalah cara Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak bercerita. Gaya bercerita dari film ini nampaknya ritmis dan juga miris, namun tetap saja menghibur dan menegangkan.

Marlina, Sang Pembunuh

Lewat 4 buah babak yang ritmis dan juga miris, sang sutradara yakni Mouly Surya membagikan kisah dari seorang perempuan yang bernama Marlina. Marlina merupakan si wanita pembunuh yang sosoknya diperankan oleh Marsha Timothy. Dia adalah seorang janda yang hidup sebatang kara, sendirian, di sebuah puncak perbukitan yang ada di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Babak-babak yang mana sudah disebutkan di atas sebanyak 4, kemudian secara apik membuka jati diri Marlina, yang ternyata sosok yang menyimpan banyak sekali misteri.

Di balik emosinya yang sudah lama terpendam, karena datangnya kawanan perampok yang merampas dengan paksa hewan ternak dan juga harga dirinya sekaligus, Marlina pun dengan gagah berani memenggal kepala dari gembong penyamun tersebut. Babak-babak tersebut pun terus saja mengalir dan sampai akhirnya ia mencari keadilan dan juga penebusan dosa. Ketegangan atas apa yang bakal dilakukan oleh Marlina, atau pun apa yang akan menimpa dirinya menghiasi setiap babak dari kehidupannya. Meskipun transisi setiap babak bisa dikatakan tak begitu mulus, dilansir dari CNN Indonesia, hal tersebut bisa berhasil ditutupi oleh cerita yang kuat. Dengan demikian, penonton pun tetap bisa mengikuti jalan ceritanya.

Kisah Marlina Sibak Sisi Lain di Pelosok Indonesia

Kisah dari Marlina juga pasalnya menyuguhkan sebuah potret cerita yang miris di mana terjadi di pelosok Indonesia. Himpitan kemiskinan lah yang membuat Marlina, tidak bisa membiayai pemakaman suaminya. Sang suami juga terpaksa menjadi mumi yang mana terbungkus kain di salah satu sudut rumahnya. Ia lah yang menjadi saksi kebiadaban para penyamun tersebut.

Ditambah lagi dengan akses dan juga moda transportasi yang mana sangat sulit di Sumba. Hal ini tergambar lewat pengambilan gambar dengan angle yang sangat lebar. Marlina harus menunggu bus truk untuk menjangkau aparat kepolisian. Saat busa tidak bisa diandalkan, Marlina pun terpaksa harus berkawan dengan kuda yang mana ia tunggangi sampai ke kantor polisi. Dan saat ia sampai di sana, aparat juga tak bisa diharapkan untuk menuntaskan kasus Marlina itu. dan ini lah yang banyak mendapatkan acungan jempol, sebuah kritik yang pedas dan cerdas bagi aparat Indonesia yang kerjanya masih jauh di bawah kata baik.

Di sisi lainnya juga, Marlina adalah sebuah tontonan Togel hongkong yang menghibur. Lewat music, pengambilan gambar, dialek, dialog, dan juga iringan music bisa memanjakan mata Anda dan juga telinga Anda. Dialek contohnya, dialeknya sangat khas dan berhasil dimainkan oleh para laokn. Dan dialek tersebut berpadu dengan dialog yang mana banyak mengandung komedi dan humor gelap. Sebuah lelucon yang sangat hidup dan patut untuk ditertawai.

Ditambah lagi dengan pemandangan Sumba yang indah. Eksotisme tanah Sumba dengan sistem pengambilan wide angle yang sangat ekstrem pun diiringi dengan music yang sangat manis. Hal ini juga membuat para penontonnya betah duduk berlama-lama untuk menonton film yang berdurasi 1 jam 30 menit tersebut. Para pemain film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak ini benar-benar nampak seperti layaknya orang Sumba asli. Sebuah kredit diberikan oleh CNN Indonesia pada Marsha Timothy dan juga Dea Panendra yang mana berperan sebagai kawan dari Marlina, Novi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *