Bertemu Biksu-Biksu Garis Keras dari Myanmar

Akhir-akhir ini dunia internasional dibuat prihatin dengan adanya pengucilan atas suatu etnis di Myanmar, Rohingya. Dan dalam satu kesempatan ekslusif, media internasional mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan beberapa biksu garis keras yang ada di Myanmar.

Memandang Media Internasional Penuh Kecurigaan

Ashin Wirathu, pemimpin Organisasi Ma Ba Tha, menutupi dan mengangkat sebuah payung untuk menghalangi wajahnya dari kamera media internasional saat media tersebut mendekatinya di Mandalay. Permusuhan pada kaum jurnalis merupaan sifat umum pada gerakan garis keras oleh kaum nasionalis. Dalam pandangan mereka, kaum Ma Ba Tha, hanya ada satu hal: umat Budha adalah umat korban amukan dari umat Islam.

Mereka masih saja mempromosikan agenda chauvunis mereka setelah enam bulan kena vonis Aung San Suu Kyi. Para biksu tersebut terlihat tak gentar dengan apa yang sudah dilarangkan pada mereka. salah satu jurnalis media  BBC diberikan kesempatan untuk melakukan sebuah wawancara dan juga dialog dengan delapan pendeta terkemuka yang ada di biara Kim Wim Min Gyi yang ada di Mandalay.

Wawancara dan Dialog Ekslusif dengan Para Biksu

Mereka sebenarnya tidak memilki satu pun masalah dengan warga Muslim yang mana taat pada hukum. Hal ini diungkapkan oleh Biksu Eaindar Sakka Biwintha. Namun ia menambahkan, “tapi orang juga perlu melihat apa yang sudah terjadi di India ketika penjajah Islam memaksa para penduduknya menjadi umat Muslim.” Dan dalam cara pandang ini lah, tindakan sangat brutal yang sudah membuat kurang lebih 37.000 orang etnis Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Ini adalah bagian dari perjuangan yang panjang melawan invansi agama Islam di tanah umat para pemeluk Budha.

Sebenarnya pada bulan Juli lalu, Ma Ba Tha sudah dibubarkan, ketika itu pemerintah mengambil indakan yang sangat eras pada ujaran kebencian di sana. Jurnalis tersebut bertanya tentang pendapat organisasi Ma Ba Tha itu terhadap tindakan yang dilakukan Aung San Suu Kyi pada krisis Rakhine. Dan salah satunya menjawab menggunakan sebuah kata yakni “Bengali” (yang dianggap oleh Rohingya sebagai sebuah penghinaan. Kata ini digunakan untuk merujuk pada warga negara yang mana banyak menjadi pengungsi yang melarikan diri ke negara Bangladesh tersebut.

Biksu Eaindar mengatakan, “Posisi Aung San Kuu Kyi sudah tepat dalam masalah Bengali ini. dan ia mentakan hal yang sudah tepat juga. Jadi saya menerima ini dengan senang. Karena sikapnya tersebut, banyak orang yang sudah membulan-bulaninya dengan banyak dusta dan juga foto-foto yang diedit juga serta banyak orang yang menghina dirinya di Facebook. Sungguh sangat menjijikkan,menghina seorang pemimpin negara.”

Tidak disambut Gembira oleh Aung San Suu Kyi

Namun sayangnya, itu bukanlah dukungan yang mana disambut dengan senang hati oleh Aung San Suu Kyi. Namun apa yang dikatakan oleh Ma Ba Tha ini sangat berarti karena mereka bisa memobilisasi dukungan rakyat berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Dan juga di sisi lain, menjadikan larangan pemerintah yang bagaikan main-mainan saja.

Da terbukti, tak ada satu pun dukungan ataupun simpati bagi Rohingya di sebagian besar penduduk Myanmar. Dan salah satu pertemuan poker online yang paling mengejutkan dari jurnalis tersebut adalah pertemuannya dengan salah satu juru bicara keamanan dari partai Suu Kyi yang ada di Mandalay. Myint Aung Mo bahkan sangat yakin bahwa umat Budha yang ada di Rakhine adalah korban juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *